MATARAM4D 🏛️ Bagaimana Kesultanan Mataram Mengubah Peta Kekuasaan di Jawa? Perjalanan Menuju Perpecahan Membantu Membedakan Fase-Fase Penting dan Memahami Warisan Politiknya

mataram4d ·
MATARAM4D 🏛️ Bagaimana Kesultanan Mataram Mengubah Peta Kekuasaan di Jawa? Perjalanan Menuju Perpecahan Membantu Membedakan Fase-Fase Penting dan Memahami Warisan Politiknya

mataram4d

LIVE

Kesultanan Mataram mengubah peta kekuasaan Jawa melalui beberapa tahap: berawal sebagai wilayah bawahan Pajang, berkembang menjadi kerajaan dengan jangkauan luas, lalu berubah status sebelum terpecah pada 1755. Tiap tahap memperlihatkan perubahan yang berbeda—dari siapa yang berkuasa, seberapa jauh jangkauannya, hingga bagaimana wilayahnya dibagi. [1]

Dari wilayah Pajang menjadi kesultanan

Pada 1570-an, Ki Ageng Pamanahan menerima kekuasaan atas tanah Mataram dari Sultan Adiwijaya, penguasa Pajang, sebagai imbalan atas jasanya mengalahkan Arya Panangsang. Mataram saat itu merupakan kadipaten dan bagian dari wilayah Pajang. [1]

Setelah Adiwijaya wafat pada 1582, Pajang mengalami perebutan kekuasaan: Pangeran Benawa tersingkir dari takhta oleh Arya Pangiri. Sutawijaya, putra Pamanahan yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Senapati, menggantikan ayahnya sekitar 1584 dan mulai melepaskan Mataram dari kekuasaan Pajang. Mataram didirikan sebagai kesultanan pada 1586; pada tahun itu pula Pajang tercatat masuk ke dalam kedaulatannya setelah Benawa menyerahkan takhta. [1]

Rangkaian ini membedakan pembentukan Mataram dari perluasan kekuasaannya. Awalnya, perubahan berlangsung dari kadipaten dalam tatanan Pajang menjadi kesultanan yang memiliki kedaulatan sendiri. [1]

Jangkauan luas, tetapi wilayahnya berlapis

Pada abad ke-17, khususnya di bawah Sultan Agung, Mataram disebut sebagai negara terkuat yang menyatukan sebagian besar Jawa—termasuk Jawa Barat kecuali Banten—serta mencakup wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura. Jangkauannya juga disebut meliputi Sukadana di Kalimantan Barat, Makassar di Sulawesi Selatan, serta Palembang dan Jambi di Sumatra. [1]

Namun, wilayah kerajaan bukan satu hamparan dengan status yang seragam. Mataram terdiri atas wilayah inti seperti kutagara dan nagaragung, juga mancanagara, pasisiran, serta daerah vasal. Sebagian wilayah dianeksasi, sementara sebagian lainnya memiliki tingkat otonomi yang berbeda. [1] Perbedaan ini penting: luas jangkauan memberi gambaran tentang kekuatan Mataram, sedangkan susunan wilayahnya menunjukkan bahwa hubungan pusat dengan setiap daerah tidak selalu sama.

Dari negara merdeka menuju perpecahan

Mataram pernah menjadi negara merdeka yang menjalin hubungan perdagangan dengan Belanda; kedua pihak juga saling mengirim duta besar. Menjelang keruntuhannya, status itu berubah: Mataram menjadi protektorat Belanda dengan kedudukan swapraja. [1] Jadi, perubahan peta kekuasaan tidak hanya menyangkut batas wilayah, tetapi juga status politik kerajaan.

Perpecahan Mataram ditandai oleh Perjanjian Giyanti, yang ditandatangani dan diratifikasi pada 13 Februari 1755 oleh Pangeran Mangkubumi bersama VOC. Kesepakatan itu membagi Mataram menjadi negara-negara lebih kecil; separuh wilayahnya dijadikan wilayah Kesultanan Yogyakarta. Secara hukum, perjanjian tersebut menandai berakhirnya Mataram. [1]

Warisan politiknya terlihat dalam perubahan bentuk kekuasaan

Urutan perjalanannya memperlihatkan bahwa Mataram bukan satu susunan politik yang tetap. Kerajaan ini beralih dari wilayah bawahan Pajang menjadi kesultanan yang jangkauannya luas, tersusun atas daerah dengan tingkat keterikatan berbeda, lalu menjadi protektorat sebelum terbagi. Perjanjian Giyanti menjadi penanda akhirnya sebagai satu kerajaan secara hukum dan lahirnya tatanan wilayah yang lebih kecil. [1]

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Kesultanan Mataram. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30007819&title=Kesultanan_Mataram (diakses 2026-10-03).
mataram4d

FAQ mataram4d

Pertanyaan yang sering diajukan

Mataram awalnya merupakan kadipaten dalam wilayah Pajang; pada 1570-an, Ki Ageng Pamanahan menerima tanah Mataram dari Sultan Adiwijaya. Sutawijaya mulai melepaskan Mataram dari kekuasaan Pajang sekitar 1584, lalu mendirikan Kesultanan Mataram pada 1586. Pada tahun yang sama, Pajang masuk ke dalam kedaulatan Mataram setelah Pangeran Benawa menyerahkan takhtanya [1].

Tidak. Wilayahnya mencakup wilayah inti seperti kutagara dan nagaragung, juga mancanagara, pasisiran, serta daerah vasal. Sebagian wilayah dianeksasi, sedangkan yang lain memiliki tingkat otonomi yang beragam [1].

Pada abad ke-17, Mataram disebut menyatukan sebagian besar Jawa, kecuali Banten di Jawa Barat. Jangkauan yang dicatat juga mencakup Sukadana, Makassar, Palembang, dan Jambi; penyebutan jangkauan ini tidak berarti semua wilayah tersebut memiliki status yang seragam [1].

Mataram pernah menjadi negara merdeka yang menjalin hubungan perdagangan dengan Belanda dan saling mengirim duta besar. Menjelang keruntuhannya, statusnya berubah menjadi protektorat Belanda dengan kedudukan swapraja [1].

Perjanjian Giyanti, yang ditandatangani dan diratifikasi pada 13 Februari 1755, membagi Mataram menjadi negara-negara yang lebih kecil; separuh wilayahnya dijadikan wilayah Kesultanan Yogyakarta. Secara hukum, perjanjian itu menandai berakhirnya Mataram [1].